Kota Bandung - Ancaman siber
terhadap sistem pelayanan kesehatan kini menjadi perhatian serius. Untuk
memperkuat kesiapan sektor kesehatan dalam menghadapi ancaman tersebut, Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat (Dinkes Jabar) bekerja sama dengan Badan Siber
dan Sandi Negara Republik Indonesia (BSSN RI) menyelenggarakan kegiatan
Bimbingan Teknis Kesiapsiagaan Penanganan Insiden Siber Sektor Kesehatan, yang
berlangsung selama dua hari pada 24–25 Juni 2025. Selasa (24 Juni 2025).
Kegiatan ini secara resmi dibuka
oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Dr. Firman Adam, S.Pd.,
MM.Pd., yang membacakan sambutan dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Barat, dr. Raden Vini Adiani Dewi, MMRS.
Dalam sambutannya, Kadinkes
menekankan bahwa Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah fasilitas pelayanan
kesehatan terbanyak di Indonesia, memiliki tantangan besar dalam melindungi
infrastruktur digitalnya dari ancaman siber. "Transformasi layanan
kesehatan tidak dapat dipisahkan dari transformasi digital. Dan transformasi
digital tidak dapat berjalan tanpa jaminan keamanan siber yang kuat," ujar
Dr. Firman membacakan sambutan.
Tercatat lebih dari 19.000
fasilitas pelayanan kesehatan di Jawa Barat, mulai dari rumah sakit, puskesmas,
laboratorium, hingga apotek, kini bergantung pada sistem informasi elektronik.
Celah keamanan sekecil apa pun dapat berdampak besar pada layanan, data pasien,
bahkan reputasi institusi.
Direktur Keamanan Siber dan Sandi
Pembangunan Manusia BSSN RI, Agus Prasetyo, S.Kom., M.M., menyampaikan bahwa
kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan rumah sakit dan fasilitas
kesehatan dalam menghadapi insiden siber yang semakin kompleks. Menurutnya,
pelatihan ini bukan sekadar transfer ilmu, tetapi bagian dari pembangunan SDM
digital yang unggul, berlandaskan tiga pilar utama: SKA – Skill, Knowledge, dan
Attitude.
Agus Prasetyo juga menegaskan
pentingnya pembentukan dan penguatan Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) di setiap
penyelenggara sistem elektronik sektor kesehatan. “Kita tidak cukup hanya
mencegah, tetapi juga harus siap merespons cepat saat insiden terjadi. TTIS
adalah garda terdepan,” ujarnya.
Kegiatan juga bertujuan mendorong penyusunan kebijakan keamanan siber berbasis risiko dan kebutuhan masing-masing institusi kesehatan.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat berharap, kolaborasi dengan BSSN RI ini dapat menjadi langkah strategis membangun ekosistem digital kesehatan yang tangguh, aman, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Jawa Barat.
Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat
dr. Raden Vini Adiani Dewi, M.M.R.S

