Kota Bandung, Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat mencatat sebanyak 3.906 kasus baru HIV positif dan 1.035
kasus baru AIDS terdeteksi sepanjang periode Januari hingga Mei 2025.
Dari total 3.906 kasus baru HIV
yang tercatat dalam Sistem Informasi HIV-AIDS (SIHA), 2.570 kasus di antaranya
(66%) telah memulai pengobatan ARV (Antiretroviral). Angka ini masih jauh di
bawah target pengobatan nasional sebesar 95%.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Barat, dr. Vini Adiani Dewi, MMRS, menekankan bahwa peningkatan kasus ini
bukan hanya peringatan, tetapi juga menjadi panggilan untuk menguatkan layanan
kesehatan dan edukasi publik. Ia menyampaikan bahwa melalui Pemerintah Provinsi
Jawa Barat dan berbagai pendekatan berbasis komunitas, Dinkes Jabar terus
berupaya menjangkau kelompok populasi kunci dan meningkatkan deteksi dini
secara aktif.
“Melalui penguatan Test and
Treat, Dinkes Jabar memperluas akses layanan tes dan konseling HIV, memperkuat
kemitraan lintas sektor melalui skema Public Private Community Partnership
(PPCP), serta meningkatkan kapasitas para pemberi layanan HIV,” terang dr.
Vini.
Selain itu, Kementerian Kesehatan
RI menegaskan bahwa HIV tidak menular melalui interaksi sosial biasa seperti
bersalaman, makan bersama, atau pelukan. HIV hanya menular melalui hubungan
seksual tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi, penggunaan jarum suntik
bergantian, transfusi darah yang tidak disaring dan penularan dari ibu ke anak
tanpa intervensi medis.
Oleh karena itu, upaya pencegahan
yang utama diantaranya, menghindari perilaku seksual berisiko, melakukan
skrining rutin bagi kelompok rentan, menggunakan kondom, tidak berbagi jarum
suntik dan terapi ARV bagi yang sudah terinfeksi.
Dinkes Jabar mengajak masyarakat
untuk tidak ragu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Saat ini, layanan
tes HIV tersedia gratis dan rahasia di berbagai puskesmas dan RSUD.
“Kita harus hentikan stigma,
bukan manusianya. HIV bisa dicegah dan ditangani jika dideteksi lebih awal,”
pungkas Kadinkes Jabar
Pencegahan dan penanganan HIV/ADIS bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama demi melindungi generasi yang lebih sehat dan bebas stigma.
Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat
dr. Raden Vini Adiani Dewi, M.M.R.S

